Orang Borneo yang Jatuh Hati pada PERSIB Bandung
"Bagaimana ceritanya seorang pria kelahiran Borneo, tanpa setetes pun darah Jawa Barat, bisa mati-matian mendukung PERSIB?"
Pertanyaan tak terucap itu sering kali muncul dari raut wajah orang-orang di sekitarku. Mereka tampak keheranan melihat dukunganku yang begitu solid untuk Si Pangeran Biru.
Sebagai gambaran, aku tinggal di sebuah kota kecil di Kalimantan Timur bernama Berau, atau lebih spesifiknya Tanjung Redeb. Sebuah kota yang mungkin lebih dikenal orang karena geliat tambang batu baranya. Jika kalian pernah mendengar nama Berau Coal, salah satu raksasa anak perusahaan Sinarmas, ya, di sinilah markasnya.
Secara demografi, komposisi penduduk di kota ini sangat majemuk. Ada Suku Berau (Banua), Bajau, dan berbagai subsuku Dayak. Namun, paradoksnya, yang mendominasi justru pendatang dari suku Bugis, Jawa, dan Banjar. Keberagaman ini secara langsung membentuk peta dukungan sepak bola di sini. Mayoritas masyarakat adalah loyalis Borneo FC (karena kedekatan suku Banjar dan Berau), disusul PSM Makassar (basis suku Bugis), lalu Arema Malang dan Persebaya (basis suku Jawa).
Hal ini wajar terjadi karena Berau sendiri belum memiliki klub sepak bola langganan Liga 1. Di level profesional, kami hanya punya PERSIRAU Berau (milik pemerintah daerah) dan Marine FC (milik swasta) itupun klub-klub ini masih berjibaku di Liga 3, kasta terendah sepakbola profesional.
Di tengah peta dominasi suporter tersebut, warna biru PERSIB nyaris tidak terlihat. Populasi masyarakat Sunda di sini hanyalah segelintir. Sekalipun ada, mayoritas dari mereka bukanlah pendatang yang berniat menetap permanen untuk menikmati kota atau meramaikan skena sepak bola lokal. Mereka biasanya adalah pekerja tambang atau perantau yang singgah sementara untuk mencari nafkah, dan akan kembali ke Jawa Barat saat musim cuti tiba.
Tidak heran jika PERSIB bukanlah bagian dari budaya akar rumput di sini. Tidak seperti Borneo FC di Samarinda, PSM di Makassar, atau Persebaya di Surabaya. Mencari acara nonton bareng (nobar) PERSIB di Berau sama susahnya dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Sangat kontras dengan komunitas pendukung Borneo FC atau Arema yang sesekali masih rutin menggelar nobar.
Maka, menjadi seorang Bobotoh di kota ini adalah sebuah anomali. Lahir dan besar di tanah Borneo, tapi mengalungkan syal PERSIB di leher. Bagi sebagian orang lokal, pilihan ini mungkin terasa janggal, bahkan sedikit berbau "pengkhianatan" kedaerahan. Mereka jarang bertanya langsung, tapi dari sorot matanya jelas menyiratkan kebingungan, "Bisa-bisanya orang ini dukung PERSIB?"
Penjelasannya sebenarnya cukup sederhana dan sangat sentimentil. Jujur, aku sudah menjadi penikmat sepak bola nasional sejak era Liga Bank Mandiri, meski saat itu belum ada satu pun klub yang benar-benar memikat hati. Titik baliknya terjadi di tahun 2014.
Semua bermula dari kepindahanku ke Bandung pada tahun 2009 untuk berkuliah. Tinggal bertahun-tahun di sana membuatku perlahan merasa nyaman. Aku dikelilingi banyak teman yang kebetulan adalah Viking sejati. Tanpa sadar, obrolan sehari-hari kami selalu berujung pada PERSIB. Awalnya, aku hanya ingin membaur dengan ritme pergaulan kota tersebut. Namun, atmosfer sepak bola Bandung yang magis perlahan menarikku masuk. Tahun pertama aku memutuskan untuk benar-benar men-support PERSIB, tahun itu pula mereka keluar sebagai juara.
Sejak momen magis itu, kesetiaanku pada PERSIB tak pernah luntur. Jadi, kecintaanku pada klub ini bukan lahir dari garis keturunan, melainkan dari memori dan rasa saling memiliki yang terbangun di kota itu. Meski begitu, koneksiku dengan Jawa Barat tidak sepenuhnya terputus, karena kebetulan istriku memang memiliki darah Sunda.
Ketika aku kembali ke Borneo dan terang-terangan menunjukkan identitasku sebagai suporter PERSIB di media sosial, rasa terasing itu mulai muncul. Aku menjadi semacam "kucing oren di tengah kawanan anjing pelacak". Sering kali aku merasa tidak diajak atau tertinggal euforia saat ada nobar lokal. Tapi itu sama sekali tidak masalah, karena hatiku memang bukan untuk tim Kalimantan.
Lalu, sering muncul pertanyaan retoris, "Kenapa tidak dukung Borneo FC saja? Bukankah secara historis dan sosial lebih dekat?"
Jawabanku murni soal prinsip. Dengan segala hormat, agak janggal rasanya bagiku mendukung klub yang tidak merangkak berdarah-darah dari kasta terbawah. Klub instan hasil akuisisi dan ganti nama, menurut pandangan pribadiku, kehilangan nilai romantisme dalam sejarah berdirinya sebuah tim sepak bola. Jika pun aku harus dipaksa mendukung tim asal Kalimantan, pilihanku mungkin akan jatuh pada PERSIBA Balikpapan. Selain karena mereka punya sejarah organik yang panjang, kebetulan jersey mereka punya kesamaan warna dengan PERSIB: Biru. Tapi sekali lagi, ini murni preferensi pribadi.
Menjadi minoritas tunggal di Kalimantan memang membawa beban tersendiri. Bukan beban hidup, melainkan beban sosial. Tidak ada teman nobar yang bisa diajak berteriak saat pemain Persib mencetak gol, atau teman diskusi untuk sekadar mengeluhkan taktik pelatih di warung kopi.
Namun, cinta pada sepak bola kadang memang tak butuh validasi geografis. Walau jarak membentang ribuan kilometer dan aku berpijak di tanah yang mengibarkan bendera tim lain, dukunganku untuk PERSIB Bandung tidak akan surut. Bahkan, kecintaan ini perlahan sedang aku tularkan kepada kedua anakku yang kini berusia 8 dan 5 tahun. Lagipula, ini jadi hal yang sangat masuk akal, karena mereka jelas-jelas mewarisi darah Jawa Barat dari ibunya. Di keluarga kecil ini, tradisi mendukung PERSIB akan terus hidup.

Comments
Post a Comment